Showing posts with label Casper. Show all posts
Showing posts with label Casper. Show all posts

2.4.16

The "New" Me

Assalamu'alaikum Wr.Wb.




Wah, sudah lama nggak berkutat dengan dunia blog. 
Rasanya aneh ketika "gue", "lo" sudah nggak se"lazim" dulu kala. 

Masih bingung ingin bertransformasi menjadi bentuk yang seperti apa. Masih tidak yakin apakah perubahan yang dibawa akan memberikan dampak baik atau buruk. Masih yakin bahwa perubahan adalah sebuah tuntutan. 

Raditya Dika telah menginspirasi saya untuk mulai terjun ke dalam dunia tulis-menulis di blog. Tidak lama setelah membaca beberapa karya dia, blog ini lahir. Pertama kali menulis blog, tidak terduga bahwa ada secuil rasa bebas dan senang yang lama-lama menjalar, menyeruak, dan tumbuh. Perasaan ini terus menggebu-gebu dan melahirkan banyak tulisan-tulisan aneh tentang jurnal kehidupan pelajar SMP maupun kehidupan percintaan konyol, cinta monyet kata mereka. 

Akhirnya, kuputuskan untuk mengganti nama "gue" menjadi "aku". 

Semoga transformasi ini dapat menjadi satu langkah besar dalam hidupku. Haha..
#shafira Bizzare mode ON
#salam gembel (maapkan, menghilangkan sifat absurd itu tidak semudah membalikkan telapak tangan ~'-'~)


Wa'alaikumsalam Wr.Wb.

21.3.15

Lahirnya Lima Sekawan Bukan Anjing #7 END

Assalamu'alaikum Wr.Wb



Entah kenapa cerita ini sepertinya terhenti untuk sejenak. Gomen. Gomen. Ane kan wanita karir, Gan. Dan gue nggak suka digelari dengan sebutan "Orang Yang Memulai Percakapan Tanpa Mau Mengakhirinya Meskipun Dia Tahu Dia Adalah Orang Macam Itu". Oke. Where were we?

Ah.. 
Still at my place.

Makan siang kelar dan saatnya buat gue untuk catch flight to Canada to buy a candy full of jar (?). Good, effort, bud! Thank you.. Oke, would you guys stop this amazingly ridiculous conversation? I would love to.. but, we can't.. Hahaha...  Mereka semua kenyang dengan sup jagung cinta gue (?) dan kita ended up having chat together with Rani in it.. 

Dan tiba-tiba tanpa ada skenario belaka, bokap pulang bawa Zakky dan snack. Kaboom! Gue nentengin kresek Indomaret berisi Big Cola 3L dan snacks. Dan pada saat itulah, gue menyadari mata mereka pada kinclong melototin Big Cola di tangan gue. Kita akhirnya ngobrol, ngobrol, dan ngobrol cukup lama sampe snack abis total. Pembully-an tetap berlanjut. Dan korbannya selalu bergantian. Dari Rani, Huda, Gue, dan ke Rani lagi, dan gitu terus sampe Jennifer Lawrence main Hunger Games ke 76. 

Oh ya. Cerita itu gue bawa lagi untuk kembali ditertawakan bersama. Cerita di mana gue dicampakkan oleh Kiki. Jadi...

Flashback

Siang itu, sepulang sekolah, gue dengan semangat jalan kaki dari sekolah ke depan Rumah Makan Sumber Hidup buat cegat angkutan umum biar bisa nyampe rumah dengan selamat sentosa penuh barokah dan sebungkus nasi padang (?). Dan FYI, pas itu gue belum sama sekali kenal dan deket dengan Kiki. Gue pun berjalan, berjalan, dan berjalan lalu jatuh dan tak bisa bangkit lagi. Setelah sampe di sana, gue menemukan Kiki lagi menunggu dan sepertinya bakal naik angkutan juga. And yeah.. the awkward moment.. gue nggak tahu harus ngomong apa dan ngapain. Gue bisa ngupil sambil manjat ATM sebelah dan masang tampang bego terus bilang, "Hai, Ki. What's up?" dan gue tahu, setelah itu gue bakal jadi buronan FBI. Gue pun memilih untuk matung dan berdoa lebih keras supaya angkutan umum C atau A jurusan kademangan bakal dateng dengan cepat secepat siput. 

Gue juga sebenernya bukan tipe orang yang cocok naik angkutan umum. Kenapa? Angkutan umum di Indonesia sangat nggak mendukung orang-orang seperti gue. Kayak apaan, hah? Orang dengan volume suara yang sangat kecil merupakan orang yang paling apes kalau naik angkutan umum. Di Indonesia, kalau mau stop atau bilang berhenti, kita kudu bilang dan treak biar abang supir kedengaran. "Bang, gotong royong!" atau "Bang, kiri, Bang!" atau "Bang, buruan dong! Pengen boker neh!" dan lu bakal langsung dimakamkan di angkutan itu juga. Selamat. Oh ya, for the record, jurusan angkutan umum kita sama.

Akhirnya, dia datang. Dan gue pun dengan semangat 45 masuk dan naik lalu duduk cantik di pojokan belakang. Yeah, stupid choice. And I didn't even know how to stop this damn car. Gue awalnya santai dan berharap gue bisa treak sekenceng mungkin biar abang supir denger suara Kak Syahrini. 

Kita pun berangkat. Melewati gunung, lembah, padang pasir, dan boneka salju, lalu menuju padang rumput dan isi bensin buat ke Paris beli obat cacing 1000 dapet 3. 

Angkutannya belok ke kiri ngelewatin jalan Cokroaminoto dan tujuan pemberhentian gue semakin dekat. Gue bakal berhenti dan treak, "Bang, Indomaret Cokro!". Tapi ternyata Tuhan berkata lain, bung.. Darn! 

Skenario ini udah gue perkirakan jauh sebelum Abraham Linclon jadi buyut. Dan gue pun melakukan treak-an pertama dan hasilnya nggak begitu bagus. "Bang, Indo.." dan mobilnya tetep jalan aja terus. Gue kept calming down dan bakal treak lagi buat berhenti di gang 6 Gubernur Suryo aja. Yak, "Bang, gang en..." dan sekali lagi, mobilnya tetep lurus aja. Dan satu kata yang berhasil keluar dari mulut gue pertama kali saat itu adalah, "Mampus,". Gue nggak tahu harus gimana, karena gue akhirnya berkelana dan nggak turun-turun. Andai aja gue bawa toa, pasti tuh abang langsung ke THT deh. 

Dan rencana C gue adalah untuk ikut turun pas Kiki turun dan gue mau sok sotoy dan sok kenal buat minjem handphonenya dan nelpon orang tua gue buat jemput gue. Nggak disangka banget, rumah Kiki jauh banget. Dan akhirnya Kiki pun turun. Gue tanpa pikir panjang juga ikut turun dan bayar ongkos angkutan dengan memegang harapan bahwa Kiki tahu gue akhirnya nyasar gara-gara suara kecil yang nggak bisa berhentiin angkutan umum. Malu banget, asem! 

Setelah turun, gue pun menghampiri Kiki dan reaksi dia pas itu aneh banget. Kayak "Nih anak ngapain buntutin gue sampe sini? Jangan-jangan, gue mau dibegal? Mampus. Duh, tolongin gue dong. Gue nggak mau dibegal sama nih anak manusia." Dan kalimat oon pertema gue adalah, "Nih kalau mau balik lagi naik angkutan apaan ye?" dan dia jawab dengan logika yang matang dan mantap, "Naik angkutan yang sama tapi dari arah berlawanan. ". Gue dalam hati, "Bodo! Ngapain gue tanya begituan!", gue mendadak bego akibat nyasar sampe Kademangan. Dan yang paling menyenangkan adalah, PERCAKAPAN KITA BERAKHIR SAMPE DI SITU DOANG. Gue kira Kiki bakal ngerti dan minjemin handphonenya buat gue. Gue pun matung di sana dan ngeliat Kiki jalan memasuki gang perumahan menjauh pergi dari gue meninggalkan gue di sana sebatang kara (?) 

Dan gue. Gue akhirnya memilih untuk menunggu angkutan umum A atau C dari arah berlawanan. Gue menunggu, menunggu, dan menunggu hingga terjatuh dan tak bisa bangkit kembali.. -____________________-

15 menit lebih gue nunggu, dan nggak ada satupun angkutan A atau C yang lewat. Damn it! Gue nggak tahu daerah itu dan gue nggak hafal jalan baliknya. Mana mungkin gue hafal? Gue cukup sibuk ngeliatin penumpang-penumpang aneh dari cewek-cewek SMP labil yang ngomongin gebetan sampe mbah-mbah yang bawa dagangan. Cukup sibuk dengan itu sampe nggak peduli jalan. 

Akhirnya, gue pun jalan dan jalan dan jalan entah ke mana. Gue pengen nangis dan langsung mau mati aja di sana. Gue nggak tahu harus ngapain lagi. Gue cari becak, nggak ada satupun becak yang lewat.

Gue berjalan udah lebih dari 5 menit. Dan gue nyampe di titik gue merasa udah putus asa banget dan nggak pengen jalan lagi. 

Dan kemudian, gue mendengar bunyi mesin diesel dari arah belakang. Gue pun menoleh dan OH MY GOD! Gue melihat becak motor jalan dari arah belakang gue dan gue langsung melambaikan tangan buat bisa naik. Alhamdulillah banget. Itu udah kayak mukjizat buat gue. 

Gue pun sampe rumah dengan selamat dan nggak bakal berani untuk duduk di pojokan belakang angkutan umum. Gue udah janji sama diri gue sendiri. Dan gue tahu gue bakal menepati janji itu selama Obama rambutnya tetep ada ubannya. 

Flashback ends.

Dan gue pun menceritakan bagaimana kecewanya gue terhadap perilaku dingin Kiki. Tapi, itu sepenuhnya salah gue. Gue bercanda, Ki.. Yah, gue emang salah banget waktu itu. Entah kenapa gue bisa jadi sebego itu. Emang lu bego. Ya, lu bego. Shut up you, two! 

Selepas gue cerita itu, semua pada ngetawain dan ngehina gue. Thank you, ladies and gentlemen! 

Banyak banget hal-hal kecil yang kita bawa ke obrolan kita siang itu. Dan kita sama-sama menertawakan kebodohan yang sengaja diperbuat maupun nggak sengaja kejadian.. 

Semua udah kenyang, udah puas ngobrol, dan mereka akhirnya pulang. 

Gue senennnggggg banget hari itu. Entahlah. Speechless banget deh. 

Dan hari itu pun, kita resmi jadi Lima Sekawan Bukan Anjing. 

Gue bersyukur banget bisa dipertemukan dengan mereka semua, orang-orang hebat dalam hidup gue. Terima kasih, Tuhan. Allah knows the best! Arigatou.

-END-




10.3.15

Another State Of Mind #7-END

Assalamualaikum Wr.Wb
"Gravitation is not responsible for people fallin' in love." -Albert Einstein.



Part : 1 2 3 4 5 6 7

 I am so sorry about this.. But, I kinda want to end this story and choose to end it or I don't want to continue writing it.

Because of my cherophobia thing, I dearly hope you guys who read this story (is anybody there?) would kindly understand. Ok, I will give you some hints and short ending.

[A couple Months Later]

After having the SYC LDK, I ended up texting over and over and over with him. I didn't know what have gone through my head. But, I know it didn't seem so right. But, who did I blame? I ought to choose my own path. I deserved it. I was so stupid to think that he was the one and only guy who could make me happy all the time like we would have a perfect happy ending. He was too kind that I thought I might be his one and only. Hahaha. What a perfect kind of thought. I admitted I enjoyed the days we had been through.

Just after he said something that blew my mind, I quickly wanted to delete all the good memories about him. Who did I blame?

No one likes to be cheated. I hate liar, cheater, and whoever does the same thing (even myself sometimes can be a liar). Those aren't deserved the title of a good human being. Those are people who can't be forgiven by any man, except Allah. May Allah forgives you, me, and us. Aamiin.

And I hope I will never fall in the same hole. Even if, I will, I choose to climb up bleeding and ask for His forgiveness.

Love is indeed such a great thing that human can have. But in other sides, it can kill you and torture you to the point it pains you for over, and over, and over again.

Alhamdulillah.

-END

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

10.1.15

Another State Of Mind #6

Assalamualaikum Wr.Wb
"It is not the magnitude of our actions but the amount of love that is put into them that matters." -Mother Teresa




Part : 1 2 3 4 5 6


[RE-CALLING]
The SYC LDK

Where were we? Oh yeah.

He kept missing like a ghost. But then I realized he was busy with MPK’s thing. Who would lead us to a brighter path? *vomiting*. The games were over and we were being led to classroom where we would be slept for a night. Luckily, Arel was in the same (class)room with me. Not long after, the seniors ordered us to take a holy water and pray in mosque then back with the agenda needed to be accomplished. They were very strict and sharp (?). I mean, I found A very independent –you can call her– senior who spoke really loud without any hesitations. Her walking was very steady but quick. Her gaze –mostly– was as sharp as a dagger. Whoa! Enough about her. This is my ‘unlikely good’ journey to another hi. Phew~

We prayed, we walked, we breathed, we talked, we stared, we were alive~ yo yo mama. The dinner time would soon be started. The seniors gathered us in the school yard and told us to make a circle sitting each group. I was really lucky not having the same team as Sir. It would just make my heart beating faster. Then my dead body would be found in a tree called ‘Hanging Tree’ (?).

We waited for the food and guess what... We ate the food we had brought from home. And the foods here were the determined food for the pass code before. White rices, fried salty fish, basil, boiled tofu, fermented soybean, beans, cabbage, and eggplant. What made me want to puke a blood was our foods were being mixed together with the others in team. Gross! And all I could do was eating the beans along with boiled cabbage and basil. What? A vegetarian? Since when? Since an hour ago.  I almost vomited due to the weird taste mixing in my holy mouth. Hrrr..

After had a dinner, we prepared to perform our rearrangement. He became our team's conductor. I had a solo part and I would have just collapsed because everybody was actually looking at me. Their eyes.. oh my, I couldn't face them. Then I chose to look at the conductor only. The performances were over and we were allowed to sleep and regain our energy. Arel and I decided to sleep with LDK's attribute kept sticking on our bodies.

-next-

Langit Desember (5) - END

Assalamu'alaikum Wr.Wb
This is based on true story. Her love-life. 
Halida is my sister whom I respect a lot, admire, and adore. She is in Bintaro, Tangerang now for her study. And apparently she's having a CABUL (Capacity Building, it's like MOS in High School) in Bandung. Wish her luck. Arigatou :].
Enjoy.


Langit Desember
by Babun - Halida An Nabila

Part : 1 2 3 4 5

Hari yang berlalu terlalu cepat itu pun usai. Kau mendengar teman-temanmu saling melempar salam liburan dan mengingatkan satu sama lain untuk membawa oleh-oleh. Kau membisu. Kau mengemasi barang-barangmu dan berjalan pulang. Gontai.

Pikiranmu semakin kosong seiring dengan bertambahnya langkahmu. Kau hampir bisa merasakan sesuatu yang basah menetes. Dan kau menghentikan langkahmu saat air itu mengaburkan pandanganmu. Air hujan. Langit Desember menangis lagi. 

Di kejauhan kau melihat sosoknya. Kau tidak berhenti menatapnya sampai punggungnya yang tegap menghilang di kejauhan. Kau menjadi penasaran menunggu apa yang akan terjadi setelah liburan ini, saat hari-hari di kampus pulih ke rutinitasnya lagi. Akankah kau terus mengerahkan indramu dalam diam? Merekam rona wajahnya, menghafal tawanya, membaui aroma tubuhnya, lagi dan lagi? Hujan turun rintik-rintik. Stabil, tenang, membuatmu merasa aman. Jadi kau memutuskan untuk tersenyum, membiarkan untuk kesekian kalinya, pertanyaan-pertanyaan itu ditelan langit Desember. 

Dan seperti biasa, kau tidak pernah memperoleh jawaban. 

***

Langit Desember (4)

Assalamu'alaikum Wr.Wb
This is based on true story. Her love-life. 
Halida is my sister whom I respect a lot, admire, and adore. She is in Bintaro, Tangerang now for her study. And apparently she's having a CABUL (Capacity Building, it's like MOS in High School) in Bandung. Wish her luck. Arigatou :].
Enjoy.


Langit Desember
by Babun - Halida An Nabila

Part : 1 2 3 4 5

Tanpa kau sadari, Desember telah melampaui separuh perjalanannya. Hari-hari kampusmu yang melelahkan akan segera digantikan dengan tidur santai, makanan bergizi, dan suara adik-adikmu di kampung halaman. Hari itu adalah hari terakhir sebelum libur tiba. Pagi itu, kau mengenakan pakaian kuliahmu. Kau mendekati cermin dan melihat pantulan kalender. Dunia berhenti berputar. Kau menyadari sesuatu. Kau baru saja paham bahwa libur akan mengurangi jatahmu. Jatah window-shoppingmu. 

Hei Desember, bisakah kau membeku?

***

Hari itu kau rasa berlalu terlalu cepat. Delapan sks terasa seperti berabad-abad di hari normal. Tapi tidak hari itu. Hari itu berbeda. 

Kau merutuki diri sendiri. Tentang bagaimana dirimu bisa menjadi begitu bodoh dan baru menyadari hal penting. Kau tidak siap dicekik rindu. Kau tahu mungkin orang lain akan menganggap kegundahanmu konyol, karena toh pada akhirnya kau akan bisa melihat sosoknya setelah liburan usai dan hari-hari kampus dimulai lagi tahun depan. Tetapi itu tidak konyol. Liburan benar-benar membuatmu gelisah. Saat window-shopping, kau jatuh cinta seperti bocah kecil, sebab perasaanmu tidak sedikitpun dicampuri hasrat untuk memiliki. Dan bagi bocah kecil, seminggu terasa seperti setahun. Dan 3 minggu akan terasa seperti selama-lamanya. Kau bahkan tidak akan sanggup mengatakan “selamat liburan, sampai jumpa tahun depan,” padanya. Akan terasa salah. Mencintai dengan window-shopping adalah seni mengagumi jarak jauh. Perasaanmu harus disembunyikan dan diasingkan, bahkan dari hatimu sendiri. Rumit memang, tapi begitulah adanya.

Langit Desember (3)

Assalamu'alaikum Wr.Wb
This is based on true story. Her love-life. 
Halida is my sister whom I respect a lot, admire, and adore. She is in Bintaro, Tangerang now for her study. And apparently she's having a CABUL (Capacity Building, it's like MOS in High School) in Bandung. Wish her luck. Arigatou :].
Enjoy.


Langit Desember
by Babun - Halida An Nabila

Part : 1 2 3 4 5

Window-shopping sama sekali tidak buruk, bukan?

Window-shopping. Haha. Lyle—teman chat favoritmu—adalah orang pertama yang memberitahumu istilah yang tepat menggambarkan perasaanmu. Suatu hari, kau memberitahu Lyle tentang perihal kasmaranmu. Dan Lyle memberimu nasihat untuk mengungkapkan perasaanmu padanya dan menjadikannya milikmu. Tapi bukan itu yang kau mau. Kau tidak yakin dia melihatmu seperti caramu melihatnya. Lagipula kau pun paham betapa mengerikan hubungan teman-temanmu yang tadinya saling menyukai, lalu berpacaran, dan putus dengan dramatis, yang kemudian melibatkan proses move on yang sangat memakan waktu. Logika sederhana: memiliki berarti siap kehilangan, dan kehilangan menimbulkan rasa sakit. Kau benci rasa sakit dan mungkin karena itulah kau ingin mengurung perasaanmu. Kemudian Lyle berkata, “I see. You’re just window-shopping!” Mulanya kau tidak paham maksud cewek Los Angeles yang kadang agak sinting itu. Kemudian kau menyadarinya perlahan-lahan.

Layaknya window-shoppers, kau hanya ingin menatap sosoknya dari balik jendela kaca, mengaguminya dengan intensitas luar biasa, lalu berjalan pergi tanpa membelinya. Permasalahannya, kau belum ingin berjalan pergi. Kau masih terpaku di tempat oleh semacam urgensi, jenis urgensi yang membuat laron terbang mendekati sumber cahaya. 

***

21.12.14

Another State Of Mind 5

Assalamualaikum Wr.Wb
“When you really care about someone, their happiness matters more than yours.”




Part : 1 2 3 4 5 6

Another Hi had made me feel that I was his one and only. Another Hi had completely turned me into someone who wasn’t me well. “How did a person do that, huh?” that question came up when I thought that I had must fallen for him at the first time. But, in this era, who believes in love at first sight? Yeah, right. Unless your eyes are normal and perfectly completely fine, you must ever felt it. But to me, love at first sight is a bullshit thing. So, let’s just get going. Hah.

[RE-CALLING]
The SYC LDK

That day, I wore purple and you were still the same with your army backpack. We were very confused with everything that needed to be completed immediately. Rearranged Jupe’s, choreographing, harmonizing, supporting to each other, mimicking, singing, smiling, giggling, thinking, breathing we did those in one time. But, you would find me listening to ‘Aku Rapopo’ with joy. And I admitted if I did the wrong thing since they all gave me the ‘What the Hell were you doing?’ look.

We finally had a couple meetings and we kept gathering and stating the ideas in the same gazebo right in front of the English Laboratory. Um, and one thing. We called ourselves ‘Koening Ngambank’. Isn’t that delightdull? Oh no, I mean delightful? You know, that long slender yellowy floating thing. I am warning you, that’s not a banana. And that is the last thing on earth you wouldn’t even eat ever. The routines kept continuing and we always stuck with the rearrangement for Jupe’s. And I apparently kept enjoying the song while thinking that the rearrangement wasn’t the major problem. My main problem was, could I even sing it in front of everyone? I actually didn’t have any confident like I always bent down my head in math class.

The other day, I remembered him texting me saying he couldn’t find Chiki Ball with Cheese flavor. And I idiotically replied that I would find it for him. Yes! You must have seen my YOLO face that moment. I asked my mom to drive me buying the need-to-be-completed-soon snack a night after. And you know what was weird? I was home smiling like an idiot holding a stupid snack and took a picture of it. Wahdehfah. I told him by texting saying that I had got it for him. He thanked and the text was over.

LDK day had arrived. I wore red veil, black training pant, and yellow bandana. We (members of Koening Ngambank) waited for him impatiently. He was late and we almost threw him away in the river right in front of the school. But we needed him to lead us to a brighter path. *vomiting*. We couldn't pass the checking thing without him since he was the one bringing the group needs as the pass code. But he came and LATE. Oh, it was relieving. So, we finally passed the checking and making a line sitting per group.

LDK had finally started. I pretty enjoyed it since it was room with AC, the MC were apparently fantastic, the games were actually fun but I couldn't really enjoy since there was a game which needed a knowledge about Indonesian songs and you know how badly I am at it. I am an Indonesian, but bad at its own culture. Gosh. 

-next-

17.12.14

Another State Of Mind 4

Assalamualaikum Wr.Wb
“Hurt me with truths, but never comfort me with lies.”




Part : 1 2 3 4 5 6

Before it starts, I need to say something urgent to you guys who will read this with pleasure. These stories, these installments are based on my point of view. If you guys find those wrong, it doesn't really matter since I took all of them based on my point of view.

I made a little promise telling my journey to another hi. Well. Here we go.

About 3 months ago, I was so damn crazy about someone. Just like some screaming high school girls who obsess too much about their crushes. Well, I admit that they shouldn't have done it since they’re still kiddos in place called High School. See, what a high schooler can do about being mature before they shouldn't have been?


About the SYC meeting, I apparently did a good job not knowing anything about him beforehand. Meeting him was great and such an unbelievable experience. Texting him was great since I didn’t have any feelings in it. Calling his name was great since I didn't have to hide my face due to my fangirling thing. Looking at his eyes was the best part of it since I didn’t have any burden feeling. But then, I realized as if the well-behaved angel warning me to stay away and keep my eyes opened. It said that I should probably get out before I burn myself on fire. And if I burn, they burn with me.

-next-

10.12.14

ADKRS 2014 - Infinity

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Yo yo mama~

My school held a PENSI, ADKRS 2014 they call it. Well. I did join the performance, the Smasa Youth Choir. We sang Indonesia Jaya and Mars Smasa. It was fun and the guest star, JJAMS was damn cool! YourRaisa ngumpul and we rocked the world!! 

PENSI ini sendiri diadain pas tanggal 27 November 2014 dengan dresscode vintage. Temanya Infinity and apparently all of my mates are crazy about Kurnia Reza Septandri. Daf. Okay, he's dashing, so what? 

Here are some pics that I have deliberately collected *mwahahaha* if you find me doing the unusual pose, just send me a big red WARNING sign saying "You shouldn't have been born. YOLO~", then, I would be delighted to punch you in the face while giving you my best faking smile. EBOLO (Everybody Only Lives Once, so Live Life To the Safest ^^)~ 












Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Langit Desember (2)

Assalamu'alaikum Wr.Wb
This is based on true story. Her love-life. 
Halida is my sister whom I respect a lot, admire, and adore. She is in Bintaro, Tangerang now for her study. And apparently she's having a CABUL (Capacity Building, it's like MOS in High School) in Bandung. Wish her luck. Arigatou :].
Enjoy.


Langit Desember
by Babun - Halida An Nabila

Part : 1 2 3 4 5 

Sejak kapan wajahnya membuatku sulit berkonsentrasi?

Satu lagi pertanyaan kau lontarkan. Napasmu memburu. Sudah kesekian kalinya hari ini kau mencoba menahan diri untuk tidak menatapnya. Tapi apa daya? Posisinya mudah dijangkau bola matamu yang sudah kecanduan. Kau mencoba memfokuskan diri pada penjelasan dosen. Sia-sia. Sejak 45 menit terakhir suara dosenmu sudah tidak mampu ditangkap telingamu karena kau sibuk mengamati sosoknya. Akan sulit membangun konsentrasi dari tahap ini. Bahkan kau tidak yakin apakah dosenmu masih membahas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau malah sudah lanjut ke Surat Tagihan Pajak. Ah, konyol memang bagaimana rasa suka membuatmu repot-repot mengerahkan indra-indramu dalam diam. Untuk merekam rona wajahnya, menghafal tawanya, membaui aroma tubuhnya.

 “Ya, kamu siswi yang duduk di pojok. Jawabannya?” Seisi ruangan tiba-tiba menatapmu.

“Hah? Ehm.. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar...?” 

Kau begitu kaget saat mulutmu meluncurkan satu-satunya hal yang terlintas di kepalamu. Ada hening sepersekian detik sebelum tawa berderai-derai di sekelilingmu. Dan dalam kebingunganmu, kau terperangah mendapati dosen akuntansimu sedang berkacak pinggang di depan kelas. Kau tersenyum pahit. Akan ada banyak soal latihan akuntansi yang harus kau bawa pulang hari ini.

***

12.11.14

Avada Kedavra Goes To Heart




looks a bit dull but yeah. Note yourself : I am not emotional! Thank you. This is what you call formality.. hahaha

AVADA KE DAVRA (AKD32)

8.11.14

Langit Desember (1)

Assalamu'alaikum Wr.Wb
This is based on true story. Her love-life. 
Halida is my sister whom I respect a lot, admire, and adore. She is in Bintaro, Tangerang now for her study. And apparently she's having a CABUL (Capacity Building, it's like MOS in High School) in Bandung. Wish her luck. Arigatou :].
Enjoy.



Langit Desember
by Babun - Halida An Nabila

Part : 1 2 3 4 5

Sejak kau bisa mengingat, langit Desember tidak pernah ramah. Langit Desember begitu emosional dan cengeng. Air matanya yang deras selalu tumpah mendadak tanpa permisi ke sekujur tubuhmu. Biar begitu, kau tidak pernah membencinya. Malah kau diam-diam memujanya. Kau selalu menggilai nuansanya. Kelabu. Sembab. Sentimentil. 

Kau selalu merindukan langit Desember setiap tahun. Sebab setelah menabahkan diri untuk belajar giat dan bekerja keras selama kurang lebih 11 bulan, penghujung Desember selalu menjemputmu dengan iming-iming liburan akhir tahun yang menenangkan. Dan dia belum pernah mengecewakanmu. Desember selalu berhasil memberimu kesempatan untuk memulihkan diri dan membantumu mempersiapkan diri untuk menghela beban baru di tahun depan. Mungkin karena itulah kau merasakan keakraban tak terjelaskan dengan langit Desember. Kau bahkan suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol padanya: Mengapa bumi tidak pernah bosan mengitari matahari? Apakah setelah berpuas diri menghisap bunga, lebah-lebah bersendawa? Dapatkah seseorang merindu berulang kali dalam sehari? Apakah jatuh cinta menguras kewarasan? Dan seperti biasa, langit Desember bergeming seolah sedang perlahan menelan pertanyaan-pertanyaanmu. Kau tidak pernah memperoleh jawaban. Tapi tidak mengapa, bukan itulah maksudmu bertanya. 
***

27.10.14

Another State Of Mind #3

Assalamualaikum Wr.Wb
“We don’t meet people by accident. They are meant to cross our path for a reason.”




                          Part : 1 2 3 4 5 6

Just as soon as those feelings were gone, I was glad and relief. I could really put my head upon the pillow with a great new and fresh start. We both knew that we were just friends. Nothing more nothing less. I took a great regret seeing him felt in burden. I was such a bad girl.

Well. Thank you so much, sir. I really had a great time. You took me a lot of life lessons.

Okay. An ending is just another of a new beginning. I said that to myself as I cross tight my hands around the chest and kept thinking what the worse that could happen next.. Blood type B is an optimistic person, but I have cherophobia. Once I felt so happy, I knew I shouldn't. That is just not amazing skill people should owned. So, I want to clear out something. I have completely moved on. Wahaha..

A journey to another hi will soon be started. Let’s just see..

I am the "easily falling" type. This had gotten me into lots of problem. I just want to run along the shore and shout as loud as I could until my throat bleed. I just want to drink all of the water and spit it like a dumb. Sleep on the white sand as I look upon the beautiful ocean sky, listen to the breeze while closing my eyes, playing with a turtle like a kid, and singing along with a bird. Oh yeah, I like silent places. It makes my heart peace. 

That day was not a good day since I wore a baggy and my classes has an audition for ADKR 2014. Because of it, I couldn’t gather for the SYC meeting. Just after the audition, I ran down to get an information the SYC had been telling. The first time our eyes met to each other started. Hahaha.. Sounds vacant.. -,- And up until now, I can’t believe I was so much  closer to him than I imagined I was.. Stupid~ 

-next-

1.10.14

Another State Of Mind #2

Assalamualaikum Wr.Wb.
“Am I loving the wrong guy?” –Hyms


                          Part : 1 2 3 4 5 6

I am not a professional. I am not the Master of Love. When it comes to love, I can just put my hands up and start singing 2 PM’s. Do all of you do exactly like I do? No? Okay. Okay. What? Damn!

Just because I haven’t been in a relationship with guy, doesn’t mean I am lame. But, I am lame. Little lame! Please pay attention, I don’t love girls. It’s just the matter of time. Perhaps my future husband hasn’t born yet. I am just making some hypothesis..

Honestly, I can’t be in a relationship. I don’t like boundaries. I am not the type of girl who loves being attached by only one guy. But, that doesn’t mean I am playgirl. Back to number one, it’s just the matter of time. Look, guys. I am loyal. I can gurantee that. Here are my money, take it, I don’t mind.

Before, I said that, “I am still fall for you.” That could be right. I just haven’t met thousand ways to get moved on from him. Wahaha. (to me,) We have too many memories via Katalk. I can’t let him go yet. To me who built the memories by myself, can be really hard to wipe them out alone. Some drive me crazy. Some will make my tears shown up. But I realize that he’s just not the one. He wasn’t born for me. He was born for his parents. Can you not?

He used to make me freeze whenever our eyes met to each other. He used to make my ankle sprained whenever I thought about him. He used to make me laugh by myself. He used to make me excrete wet-cold sweat around my palms. He used to make me confused by his mind-puzzling. He used to make me feel like I was being paid a full attention just by him. He used to make me think that I was the most beautiful person he has ever met. He used to drive me crazy. And now, he will not make any of them for more.

I am in A side while he is in the B side. We can just be connected by a thread or brick bridge, but we don’t want to be connected. He doesn’t want to be connected. This is so confusing. I don’t get him somehow.
Now I feel free. I feel like I can shout out loud and no one can even hear me shout. They will not able to hear me curse anyone. Wahaha..

-next-